Sitasi membantu pembaca menelusuri asal gagasan, data, atau kutipan. Pemeriksaan sitasi sebaiknya dilakukan sejak mencatat sumber, sehingga Anda tidak perlu menebak referensi ketika naskah hampir selesai.
Gunakan satu gaya yang diminta pengajar atau pedoman institusi. Contoh di bawah memakai pola penulis–tahun untuk menjelaskan alur pemeriksaan, bukan menggantikan pedoman lengkap setiap jenis sumber.
1. Buat catatan sumber yang bisa ditelusuri
Untuk setiap bacaan, simpan nama penulis, tahun, judul, tautan atau DOI bila ada, serta bagian yang digunakan. Tambahkan catatan singkat tentang gagasan yang relevan dengan tulisan Anda.
Tabel kerja sederhana dapat membantu:
| Bagian tulisan | Sumber yang dipakai | Lokasi dalam sumber | Status pemeriksaan |
|---|---|---|---|
| Latar belakang | Judul sumber yang benar-benar dibaca | Bab atau halaman | Sudah dicocokkan / perlu dicek |
| Pembahasan | Artikel atau laporan terkait | Bagian hasil | Sudah dicocokkan / perlu dicek |
| Definisi istilah | Sumber definisi | Halaman atau subjudul | Sudah dicocokkan / perlu dicek |
Nama pada tabel di atas adalah label kerja, bukan referensi yang boleh langsung dimasukkan ke daftar pustaka. Isi dengan sumber nyata yang Anda gunakan.
2. Bedakan gagasan sendiri, parafrasa, dan kutipan
Dalam APA, sitasi dalam teks menggunakan penulis dan tahun. Kutipan langsung memerlukan penanda lokasi, misalnya halaman; untuk sumber tanpa halaman, gunakan penanda lain yang sesuai. Parafrasa tetap memerlukan rujukan. Penjelasan sitasi dalam teks dari Purdue OWL.
Saat membuat parafrasa, baca bagian sumber sampai memahami maksudnya, tutup sementara sumber, lalu tulis penjelasan dengan susunan Anda sendiri. Buka kembali sumber untuk memeriksa apakah maknanya tetap tepat. Mengganti beberapa kata tanpa memahami gagasan membuat kesalahan makna lebih sulit terlihat.
Pisahkan catatan kutipan persis dengan catatan ringkasan sejak awal. Anda dapat memakai kolom “kutipan” dan “catatan saya” agar kalimat sumber tidak tanpa sengaja menjadi bagian tulisan tanpa penanda.
3. Cocokkan dari teks ke daftar pustaka
Telusuri naskah dari awal. Setiap kali menemukan sitasi, cari entri yang bersesuaian di daftar pustaka. Cocokkan nama dan tahun, lalu buka sumbernya jika ada keraguan.
Berikut contoh pemeriksaan fiktif, bukan sumber untuk dikutip: di teks tertulis “Penulis A, 2024”, tetapi di daftar pustaka tahun yang tercatat 2023. Jangan memilih salah satu secara acak. Periksa dokumen asli, kemudian koreksi bagian yang keliru.
Tandai setiap masalah dalam daftar revisi agar tidak diperbaiki dua kali atau terlewat ketika berpindah bab.
4. Cocokkan kembali dari daftar pustaka ke teks
Sekarang lakukan arah sebaliknya. Untuk setiap entri daftar pustaka, cari bagian teks yang merujuk kepadanya. Tentukan apakah entri tersebut memang digunakan atau hanya tertinggal dari draf lama. Dalam APA, sumber yang disitasi harus memiliki entri referensi yang lengkap. Panduan Purdue OWL.
Jika memakai aplikasi referensi, periksa kembali metadata hasil impor. Jangan menganggap judul, kapitalisasi, nama penulis, dan tahun sudah benar hanya karena tampil otomatis.
Checklist akhir
- Setiap sumber dapat ditemukan kembali.
- Kutipan persis memiliki penanda kutipan yang sesuai.
- Gagasan yang diparafrasakan tetap diberi rujukan.
- Nama dan tahun pada teks cocok dengan daftar pustaka.
- Gaya penulisan konsisten dengan pedoman yang diminta.
- Tidak ada judul, penulis, DOI, atau tautan yang dibuat-buat.
- Sumber yang tidak mendukung klaim sudah diperbaiki atau diganti setelah dibaca.
Untuk naskah laporan, gunakan juga checklist laporan PKL. Jika ingin mendiskusikan struktur dan perapian naskah, lihat halaman layanan makalah dan sertakan pedoman serta sumber yang sudah Anda kumpulkan.
